Translate

Sunday, March 5, 2017

Cerita singkat Kehidupan Imam Asy-Syafi'i

Ia bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Idris As Syafi’i dilahirkan pada tahun 150 Hijriah. Ia dilahirkan di desa Ghazzah(gaza), Asqalan, dari pasangan suami-istri Idris bin Abbas dan Fatimah binti Abdullah. Dari jalur ayah, nasab beliau bertemu dengan Abdullah Manaf bin Qusayyi. Sementara itu dari jalur ibu, nasab beliau bertemu dengan Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Ketika berusia dua tahun, ibunya membawa Asy-Syafi'i pindah ke Hijaz, suatu tempat di mana sebagaian besar penduduknya berasal dari Yaman. Ibunda Asy-Syafi'i sendiri berasal dari Azdiyah. Meraka menetap di kawasan itu. Ketika usia Asy-Syafi'i mencapai sepuluh tahun, ibundanya membawanya pindah ke Mekkah.

Sejak kecil, Asy-Syafi'i hidup dalam kemiskinan. Pada waktu beliau diserahkan ke bangku pendidikan, para pendidik tidak memperoleh upah. Akan tetapi, setiap kali seorang guru  mengajarkan sesuatu kepada murid-murid, terlihat Asy-Syafi'i kecil mampu menangkap semua penjelasan gurunya. Setiap kali gurunya berdiri untuk meninggalkan tempat, Asy-Syafi'i kecil mengajarkan kembali apa yang ia pahami kepada anak-anak lain. Langkah yang dilakukan Asy-Syafi'i itu membawa berkah tersendiri, ia mendapatkan upah. Sesudah berusia tujuh tahun, Asy-Syafi'i tidak berhasil menghapal al-Qur'an dengan baik.

Imam Asy-Syafi'i bercerita tentang masa kecilnya "Sewaktu aku menghatamkan al-Qur'an dan memasuki mesjid, kami duduk di mejlis para ulama.Aku berhasil menghapal beberapa hadis dan beberapa masalah fiqih. Pada waktu itu, rumah kami berada di Mekkah. Kondisi kehidupan ku sangat miskin. Aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas dan aku hanya memanfaatkan tulang-tulang untuk menulis."

Suatu ketika, Imam al-Hakim sedang menceritakan hadis yang diriwatkan Bahr bin Nashr. Lalu ia(al-Hakim) berkata" Jika kami menangis, kami mengatakan kepada sesama teman, 'Pergilah kepada Asy-Syafi'i.' Ketika kami telah bertatap muka dengannya, ia membaca al-Qur'an dan orang-orang yang berada disekitarnya banyak yang pinsan karena histeris. Kami sangat kagum oleh keindahan dan kemerduan suaranya. Ia sangat memahami al-Qur'an dan itu meninggalkan kesan yang mendalam bagi pendengarnya."

Ada banyak guru (syaikh) terkemuka yang menjadi guru Asy-Syafi'i sewaktu muda. meraka adalah 1) Muslim bin Khalid al-Zanji, seorang mufti Mekkah pada tahun 180 H (796 M). Ia adalah maula Bani Makhzum;  2) Sufyan bin Uyainah al-HIlali yang berada di Mekkah, ia adalah seorang yang terkenal adil dan jujur; 3) Ibrahim bin Yahya, salah satu ulama di Madinah: 4) Malik bin Anas; 5) Waki' bin Jarah bin Malih al-Kufi; 6) Hammad bin Usmah al-Hasyimi al-Kufi; dan 7) Abdul Wahab bin Abdul Majid al-Bashri.

Imam Asy-Syafi'i adalah orang yang mempunyai keistemewahan ia mempunyai hapalan yang kuat, baik al-Qur'an maupun hadis. Ia mempunyai pengetahuan yang mendalam mengenai perbedaan yang wajib dan sunnah serta mempunyai kecerdasan di berbagai disiplin ilmu yang tidak dimiliki semua orang. Ia dapat membedakan antara sunnah yang shahih dan yang dha'if. Ia mempunyai pengetahuan yang mendalam di bidang usul fiqh, mursal, maushul, serta perbedakan antara redaksi yang umum dan khusus.

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, "Kami tidak pernah melihat seseorang yang lebih pandai dalam bidang fiqh(faqih) terhadap al-Qur'an daripada pemuda Quraisy ini. Ia adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i."

Dubaisin berkata. "Kami pernah bersama Ahmad bin Hanbal di mesjid di kota baghdad yang dibangun oleh al-Mansyur. Lalu  kami datang menemui Karabisy dan bertanya, 'Bagaiman menurutmu tentang Asy-Syafi'i?' Ia al-Kitab(al-Qur'an), sunnah, ijma' para ulama.' Kami orang-orang terdahulu sebelum ia tidak mengetahui apa itu al-Qur'an dan sunnah, sehingga kami mendengar Asy-Syafi'i tentang apa itu al-Qur'an, sunnah, dan ijma'."

Humaidi berkata."Suatu ketika kami ingin mengadakan perdebatan dengan kelompok rasionalis. Akan tetapi, kami tidak mengetahui bagaimana cara mengalahkan mereka. Kemudian imam Asy-Syafi'i datang, sehingga kami dapat memenangkan perdebatan itu."

Rabi'i berkata,"Kami pernah duduk bersama di mejlis imam Asy-Syafi'i setelah beliau meninggal dunia di Basir. Tiba-tiba datang kepada kami orang A'arabi(badui). Ia mengucapkan salam lalu bertanya, ' Di manakah bulan dan matahari di mejlis ini?' Lalu kami menjawab,'Beliau telah wafat. 'Tiba-tiba ia menangis dan berkata,'Semoga alloh mencurahkan rahmat dan mengampuni semua dosanya. Sungguh beliau telah membuka hujjah yang selama ini tertutup, telah mengubah orang-orang yang ingkar, membuka kedok mereka, dan juga telah membuka pintu kebodohan dengan memberikan penjelasan.'Lalu tidak beberapa lama orang badui tadi pergi."

pada tahun 199 H (814/815 M), imam Asy-Syafi'i berhijrah ke Mesir. sampai ke Mesir, Asy-Syafi'i kembali ke Baghdad selama satu bulan. Setelah itu, Asy-Syafi'i kembali lagi ke Mesir hingga akhir hayatnya pada tahun 204 H (819/820 M). Menjelang akhir hayatnya, imam Asy-Syafi'i menderita penyakit ambeien. Asy-Syafi'i wafat pada malam jum'at sesudah shalat magrib, tepatnya di hari terakhir bulan Rajab. Beliau dimakamkan pada hari jum'at pada tahun 204 H (819/820 M). Makamnya berada di kota Kairo, Mesir.