Translate

Thursday, March 9, 2017

Golongan-golongan Iblis Beserta Tugasnya

Iblis mempunyai sembilan golongan keturunan, masing-masing golongan mempunyai tugas tertentu, yaitu:
  1.  Khinzib bertugas mengganggu orang yang shalat.
  2.  Alwalhan bertugas mengganggu orang yang berwudhu.
  3.  Zallanbur bertugas dipasar untuk menggoda para penjual barang agar mempromosikan barang dengan sumpah,bohong, pujian berlebih dan mengurangi takaran dan timbangan.
  4.  Al'awar  bertugas di tempat pelacuran.
  5.  Alwasnan bertugas membuat orang tidur sehingga kepaladan kelopak matanya menjadi berat untuk bangkit melaksanakan shalat.
  6.  Tabr bertugas mendramatisir musibah sehingga membangkitkan kesedihan yang luar biasa.
  7.  Dasim setan yang ikut masuk rumah, ikut makan dan ikut tidur jika penghuninya tidak menyebut nama Allah, serta membangkitkan permusuhan suami isteri agar berseteru dan bahkan bercerai.
  8.  Matun setan pembawa berita bohong dikalangan manusia.
  9.  Al-Abyadh bertugas mengganggu para nabi dan wali-wali Allah(kekasih allah/orang-orang sholih). (dipetik dari Syekh Nawawi Al-Jawi, Al-Muraqi Al-Ubudiyyah, hal.tt.)
Asal mula jin klik artikel ini:inilah-asal-usul-jin-dan-pengertiannya.

Sunday, March 5, 2017

Cerita singkat Kehidupan Imam Asy-Syafi'i

Ia bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Idris As Syafi’i dilahirkan pada tahun 150 Hijriah. Ia dilahirkan di desa Ghazzah(gaza), Asqalan, dari pasangan suami-istri Idris bin Abbas dan Fatimah binti Abdullah. Dari jalur ayah, nasab beliau bertemu dengan Abdullah Manaf bin Qusayyi. Sementara itu dari jalur ibu, nasab beliau bertemu dengan Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Ketika berusia dua tahun, ibunya membawa Asy-Syafi'i pindah ke Hijaz, suatu tempat di mana sebagaian besar penduduknya berasal dari Yaman. Ibunda Asy-Syafi'i sendiri berasal dari Azdiyah. Meraka menetap di kawasan itu. Ketika usia Asy-Syafi'i mencapai sepuluh tahun, ibundanya membawanya pindah ke Mekkah.

Sejak kecil, Asy-Syafi'i hidup dalam kemiskinan. Pada waktu beliau diserahkan ke bangku pendidikan, para pendidik tidak memperoleh upah. Akan tetapi, setiap kali seorang guru  mengajarkan sesuatu kepada murid-murid, terlihat Asy-Syafi'i kecil mampu menangkap semua penjelasan gurunya. Setiap kali gurunya berdiri untuk meninggalkan tempat, Asy-Syafi'i kecil mengajarkan kembali apa yang ia pahami kepada anak-anak lain. Langkah yang dilakukan Asy-Syafi'i itu membawa berkah tersendiri, ia mendapatkan upah. Sesudah berusia tujuh tahun, Asy-Syafi'i tidak berhasil menghapal al-Qur'an dengan baik.

Imam Asy-Syafi'i bercerita tentang masa kecilnya "Sewaktu aku menghatamkan al-Qur'an dan memasuki mesjid, kami duduk di mejlis para ulama.Aku berhasil menghapal beberapa hadis dan beberapa masalah fiqih. Pada waktu itu, rumah kami berada di Mekkah. Kondisi kehidupan ku sangat miskin. Aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas dan aku hanya memanfaatkan tulang-tulang untuk menulis."

Suatu ketika, Imam al-Hakim sedang menceritakan hadis yang diriwatkan Bahr bin Nashr. Lalu ia(al-Hakim) berkata" Jika kami menangis, kami mengatakan kepada sesama teman, 'Pergilah kepada Asy-Syafi'i.' Ketika kami telah bertatap muka dengannya, ia membaca al-Qur'an dan orang-orang yang berada disekitarnya banyak yang pinsan karena histeris. Kami sangat kagum oleh keindahan dan kemerduan suaranya. Ia sangat memahami al-Qur'an dan itu meninggalkan kesan yang mendalam bagi pendengarnya."

Ada banyak guru (syaikh) terkemuka yang menjadi guru Asy-Syafi'i sewaktu muda. meraka adalah 1) Muslim bin Khalid al-Zanji, seorang mufti Mekkah pada tahun 180 H (796 M). Ia adalah maula Bani Makhzum;  2) Sufyan bin Uyainah al-HIlali yang berada di Mekkah, ia adalah seorang yang terkenal adil dan jujur; 3) Ibrahim bin Yahya, salah satu ulama di Madinah: 4) Malik bin Anas; 5) Waki' bin Jarah bin Malih al-Kufi; 6) Hammad bin Usmah al-Hasyimi al-Kufi; dan 7) Abdul Wahab bin Abdul Majid al-Bashri.

Imam Asy-Syafi'i adalah orang yang mempunyai keistemewahan ia mempunyai hapalan yang kuat, baik al-Qur'an maupun hadis. Ia mempunyai pengetahuan yang mendalam mengenai perbedaan yang wajib dan sunnah serta mempunyai kecerdasan di berbagai disiplin ilmu yang tidak dimiliki semua orang. Ia dapat membedakan antara sunnah yang shahih dan yang dha'if. Ia mempunyai pengetahuan yang mendalam di bidang usul fiqh, mursal, maushul, serta perbedakan antara redaksi yang umum dan khusus.

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, "Kami tidak pernah melihat seseorang yang lebih pandai dalam bidang fiqh(faqih) terhadap al-Qur'an daripada pemuda Quraisy ini. Ia adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i."

Dubaisin berkata. "Kami pernah bersama Ahmad bin Hanbal di mesjid di kota baghdad yang dibangun oleh al-Mansyur. Lalu  kami datang menemui Karabisy dan bertanya, 'Bagaiman menurutmu tentang Asy-Syafi'i?' Ia al-Kitab(al-Qur'an), sunnah, ijma' para ulama.' Kami orang-orang terdahulu sebelum ia tidak mengetahui apa itu al-Qur'an dan sunnah, sehingga kami mendengar Asy-Syafi'i tentang apa itu al-Qur'an, sunnah, dan ijma'."

Humaidi berkata."Suatu ketika kami ingin mengadakan perdebatan dengan kelompok rasionalis. Akan tetapi, kami tidak mengetahui bagaimana cara mengalahkan mereka. Kemudian imam Asy-Syafi'i datang, sehingga kami dapat memenangkan perdebatan itu."

Rabi'i berkata,"Kami pernah duduk bersama di mejlis imam Asy-Syafi'i setelah beliau meninggal dunia di Basir. Tiba-tiba datang kepada kami orang A'arabi(badui). Ia mengucapkan salam lalu bertanya, ' Di manakah bulan dan matahari di mejlis ini?' Lalu kami menjawab,'Beliau telah wafat. 'Tiba-tiba ia menangis dan berkata,'Semoga alloh mencurahkan rahmat dan mengampuni semua dosanya. Sungguh beliau telah membuka hujjah yang selama ini tertutup, telah mengubah orang-orang yang ingkar, membuka kedok mereka, dan juga telah membuka pintu kebodohan dengan memberikan penjelasan.'Lalu tidak beberapa lama orang badui tadi pergi."

pada tahun 199 H (814/815 M), imam Asy-Syafi'i berhijrah ke Mesir. sampai ke Mesir, Asy-Syafi'i kembali ke Baghdad selama satu bulan. Setelah itu, Asy-Syafi'i kembali lagi ke Mesir hingga akhir hayatnya pada tahun 204 H (819/820 M). Menjelang akhir hayatnya, imam Asy-Syafi'i menderita penyakit ambeien. Asy-Syafi'i wafat pada malam jum'at sesudah shalat magrib, tepatnya di hari terakhir bulan Rajab. Beliau dimakamkan pada hari jum'at pada tahun 204 H (819/820 M). Makamnya berada di kota Kairo, Mesir.

Saturday, March 4, 2017

Pengetahuan Syariat Islam; Tentang Wanita Haidh,Ilmu Fiqih

Apa boleh orang yang sedang Haid baca Al-Qur'an dengan niat mutlak (tanpa niat zikir dan berdoa) atau niat yang sudah tertanam pada awalnya (yaitu niat baca al-qur'an secara lepas tanpa bersengaja).

Dalam kitab majmu jilid,2 halama,356,menjelaskan:

ﻭﻳﺤﺮﻡ ﻗﺮاءﺓ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ﻻ ﻳﻘﺮﺃ اﻟﺠﻨﺐ ﻭﻻ اﻟﺤﺎﺋﺾ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ اﻟﻘﺮﺁﻥ

Haram baca al-qur'an bagi perempuan yang sedang haidh, Karena ada sabda nabi Muhammad SAW: Orang yang junub, orang yang haidh jangan membaca sedikitpun dari ayat-ayat al-qur'an.

[ Syarah ]


ﻫﺬا اﻟﺤﺪﻳﺚ ﺭﻭاﻩ اﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭاﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻣﻦ ﺭﻭاﻳﺔ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻭﺿﻌﻔﻪ اﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭاﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻭﺭﻭﻱ ﻻ ﻳﻘﺮﺃ ﺑﻜﺴﺮ اﻟﻬﻤﺰﺓ ﻋﻠﻲ اﻟﻨﻬﻰ ﻭﺑﻔﺘﺤﻬﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺨﺒﺮ اﻟﺬﻱ ﻳﺮاﺩ ﺑﻪ اﻟﻨﻬﻲ ﻭﻗﺪ ﺳﺒﻖ ﺑﻴﺎﻧﻪ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺑﺎﺏ ﻣﺎ ﻳﻮﺟﺐ اﻟﻐﺴﻞ

Kata Imam Nawawi dalam syarahnya:
Ini hadist yang meriwayatkannya Imam Tirmidzi dan Baihaqi dari Ibnu Umar. Dan hadist ini ternyata dhoif, yang mendhoifkannya pun gak tanggung-tanggung, Imam Tirmidzi dan Baihaqi juga.

ﻭﻫﺬا اﻟﺬﻱ ﺫﻛﺮﻩ ﻣﻦ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﻗﺮاءﺓ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻋﻠﻰ اﻟﺤﺎﺋﺾ ﻫﻮ اﻟﺼﺤﻴﺢ اﻟﻤﺸﻬﻮﺭ ﻭﺑﻪ ﻗﻄﻊ اﻟﻌﺮاﻗﻴﻮﻥ ﻭﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻦ اﻟﺨﺮاﺳﺎﻧﻴﻴﻦ

ini hukum yang telah mushannif sebut dalam al-muhazzab tentang keharaman membaca al-qur'an atas orang yang haidh iya lah hukum yang shohih,masyhur (dengan kata lain inilah hukum yang mu'tamad). Dengan hukum ini pula ulama irak dan beberapa himpunan dari ulama khurasan
berfatwa;

ﻭﺣﻜﻰ اﻟﺨﺮاﺳﺎﻧﻴﻮﻥ ﻗﻮﻻ ﻗﺪﻳﻤﺎ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻬﺎ ﻗﺮاءﺓ اﻟﻘﺮﺁﻥ

Namun himpunan ulama khurasan lainnya ternyata ada punya satu riwayat "Qaul Qodim" milik Imam Syafi'i " bahwa boleh membaca al-qur'an bagi perempuan haid ". Oke kita langsung pada pokoknya saja ya.

ﻭاﺣﺘﺞ ﻣﻦ ﺃﺛﺒﺖ ﻗﻮﻻ ﺑﺎﻟﺠﻮاﺯ اﺧﺘﻠﻔﻮا ﻓﻲ ﻋﻠﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻬﻴﻦ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﺃﻧﻬﺎ ﺗﺨﺎﻑ اﻟﻨﺴﻴﺎﻥ ﻟﻄﻮﻝ اﻟﺰﻣﺎﻥ ﺑﺨﻼﻑ اﻟﺠﻨﺐ ﻭاﻟﺜﺎﻧﻲ ﺃﻧﻬﺎ ﻗﺪ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﻌﻠﻤﺔ ﻓﻴﺆﺩﻱ ﺇﻟﻰ اﻧﻘﻄﺎﻉ ﺣﺮﻓﺘﻬﺎ

Para ulama Syafi'iyah yang berfatwa "bolehnya membaca Al-Qur'an bagi wanita haid" mereka masih berselisih faham pada alasan kebolehan itu,atas dua versi:
versi pertama: bahwa perempuan yang hafizah(penghafal al-qur'an) dia takut hilang hafalannya, karena lamanya masa haid,berbeda dengan junub, kalau junub kan hanya tinggal mandi saja.
versi kedua: terkadang perempuan itu ada yang berprofesi sebagai guru/ustadzah yang berhubungan dengan al-Qur'an, kalau diharamkan baca al-Qur'an,ini kan memutus profesinya sementara, bahkan mungkin bisa dipecat kalau dia ikut kerja dibawah naungan orang lain.

ﻓﺈﻥ ﻗﻠﻨﺎ ﺑﺎﻷﻭﻝ ﺟﺎﺯ ﻟﻬﺎ ﻗﺮاءﺓ ﻣﺎ ﺷﺎءﺕ ﺇﺫ ﻟﻴﺲ ﻟﻤﺎ ﻳﺨﺎﻑ ﻧﺴﻴﺎﻧﻪ ﺿﺎﺑﻂ ﻓﻌﻠﻰ ﻫﺬا ﻫﻲ ﻛﺎﻟﻄﺎﻫﺮ ﻓﻲ اﻟﻘﺮاءﺓ

Jadi jika kita ambil illat kebolehannya itu pendapat "versi pertama" maka bolehlah bagi perempuan haid itu membaca al-Qur'an sekehendaknya (tidak ada batasan waktu dan jumlah-jumlah tertentu)
karena kan masalah takut hilang hapalan ini gak ada ukuran penentuannya,(karena masalah hapalan al-qur'an ini antara otak satu dengan lainnya gak sama) maka atas pendapat ini, siperempuan haid ini hukumnya sama seperti perempuan gak haid dalam kebolehannya baca al-Qur'an.

ﻭﺇﻥ ﻗﻠﻨﺎ ﺑﺎﻟﺜﺎﻧﻲ ﻟﻢ ﻳﺤﻞ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻳﺘﻌﻠﻖ ﺑﺤﺎﺟﺔ اﻟﺘﻌﻠﻴﻢ ﻓﻲ ﺯﻣﺎﻥ اﻟﺤﻴﺾ

Namun jika kita memakai alasan pendapat ke kedua:
maka wanita haid ini tidak boleh membaca al-Qur'an, kecuali hanya di perlukan sewaktu dia mengajar saja, jadi dia ini hanya boleh baca al-Qur'an waktu mengajar di TPA/TK, sekolahan atau tahfiz saja. Adapun diluar pengajaran hukum nya tetap haram.

ﻫﻜﺬا ﺫﻛﺮ اﻟﻮﺟﻬﻴﻦ ﻭﺗﻔﺮﻳﻌﻬﻤﺎ ﺇﻣﺎﻡ اﻟﺤﺮﻣﻴﻦ ﻭﺁﺧﺮﻭﻥ ﻫﺬا ﺣﻜﻢ ﻗﺮاءﺗﻬﺎ ﺑﺎﻟﻠﺴﺎﻥ

Inilah penyebutan dua versi, dan yang merincikan kedua versi ini adalah Imam Haramain dan lainnya, dan ini berlaku hukumnya bila baca al-Qur'an lewat lidah dan bersuara.

ﻓﺄﻣﺎ ﺇﺟﺮاء اﻟﻘﺮاءﺓ ﻋﻠﻰ اﻟﻘﻠﺐ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﺤﺮﻳﻚ اﻟﻠﺴﺎﻥ ﻭاﻟﻨﻈﺮ ﻓﻲ اﻟﻤﺼﺤﻒ ﻭﺇﻣﺮاﺭ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻓﻲ اﻟﻘﻠﺐ ﻓﺠﺎﺋﺰ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ

Adapun membaca lewat hati tanpa menggerakkan lidah dan tanpa suara sambil dia memandang mushaf, maka itu boleh tanpa ada khilaf.

ﻭﺃﺟﻤﻊ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻋﻠﻰ ﺟﻮاﺯ اﻟﺘﺴﺒﻴﺢ ﻭاﻟﺘﻬﻠﻴﻞ ﻭﺳﺎﺋﺮ اﻷﺫﻛﺎﺭ ﻏﻴﺮ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻟﻠﺤﺎﺋﺾ ﻭاﻟﻨﻔﺴﺎء ﻭﻗﺪ ﺗﻘﺪﻡ ﺇﻳﻀﺎﺡ ﻫﺬا ﻣﻊ ﺟﻤﻞ ﻣﻦ اﻟﻔﺮﻭﻉ اﻟﻤﺘﻌﻠﻘﺔ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﻣﺎ ﻳﻮﺟﺐ اﻟﻐﺴﻞ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ

Dan sudah konsensus para ulama: atas bolehnya feminim yang sedang haid dan nifas baca tasbih, tahlil, dalail, burdah, dan sholawat yang bukan al-Qur'an. Dalam fatwa Imam Qoffal Shogir, beliau membolehkan qaul qadim ini, dan menyetujui hukum kebolehan orang haid membaca al-Quran.

مسألة:
على القول الذي يقول: للحائض قراءة القرآن .فإن أجنبت فإن لها أن نغتسل لقراءة القرآن .لأنها لما أجنبت امتنع بذلك القراءة

Masalah:
Menanggapi atas pernyataan (Imam Abu Tsaur mengutip dari qaul qodim) yang katanya:
Boleh bagi wanita haid baca al-Qur'an, Imam Qoffal menambah perinciannya, jika siwanita haid ini sedang junub,maka boleh bagi dia mandi junub untuk membaca al-Quran,karena kan manakala dia junub,tertegahlah bagi dia baca alquran,jadi kalau udah mandi maka boleh lah bagi dia baca al-Qur'annya.

gambarannya begini,contoh; seorang tahfizah,dia dalam keadaan haid,kemudian dia ingin menguatkan hafalannya,akan tetapi sebelum masuk masa haidnya,dia sudah dalam keadaan junub,maka dari itu diwajibkan mandi junub dulu,setelah selesai mandi junubnya,baru deh, melakukan muraja'ah menguatkan hafalan al-Qur'annya.
Kesimpulannya:
Boleh bagi wanita haid membaca al-Qur'an dalam situasi dan kondisi:
1. sewaktu mengajar al-Qur'an di TPA/TK,sekolahan dan tahfiz atau tempat lainnya.

2. sewaktu muraja'ah al-Qur'an untuk menjaga hafalan al-Quran,agar tidak hilang hafalannya.
Adapun untuk MTQ tilawah remaja,dewasa,dan tilawah qira'at remaja dan dewasa "tetap haram",namun untuk MHQ (musabaqah hifzil Qur'an) golongan 10 juz,20 juz dan 30 juz,
boleh tapi makruh.

sumber dari ust.Awi mahmud yang mengacu dari hasil semua redaksi kitab-kitab di atas.
Mohon maaf ya apabila ada kesalahan dan mohon masukannya ya sobat-sobat kalau saya ada kesalahan,kekeliruan dan silahkan tinggalkan saran & kritik anda dikolom komentarnya.